Cute Finding Nemo

Senin, 25 Mei 2015

EMOSI (PSIKOLOGI PENDIDIKAN)



EMOSI
(sumber:https://personalityfuji.wordpress.com/)
A.    Pengertian Emosi
Secara etimologis emosi berasal dari kata Prancis emotion, yang berasal lagi dari emouvoir, ‘exicte’ yang berdasarkan kata Latin emovere, artinya keluar. Dengan demikian secara etimologis emosi berati “bergerak keluar”.secara sederhana emosi berarti suatu keadaan kejiwaan yang mewarnai tingkah laku. Emosi juga diartikan sebagai suatu reaksi psikologis dalam bentuk tingkah laku gembira, bahagia, sedih, berani, takut, marah, muak, haru, cinta, dan sejenisnya 
Emosi muncul Karena bentuk luapan perasaan atau suatu gejolak suasana batin,. Hathersall (1985) merumuskan pengertian emosi sebagai suatu psikologis yang merupakan pengalaman subyektif yang dapat dilihat dari reaksi wajah dan tubuh. Misalnya seorang remaja yang sedang marah memperlihatkan muka merah, wajah seram, dan postur tubuh menegang, bertingkah laku menendang atau menyerang, serta jantung berdenyut cepat.
Jadi,kita dapat mengambil kesimpulan bahwa emosi merupakan reaksi psikologi seseorang dalam bertindak atau melakukan suatu tindakan, misalnya menangis, marah, benci, takut, sedih, haru, cinta, muak, bahagia dan lain-lain.
B.     Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Emosi
1.    Faktor Dasar Emosi
a.       Perubahan Jasmani/fisik
b.      Keadaan anak, contohnya : apakah anak itu cacat, atau sempurna
c.       Perubahan dalam hubungan teman-teman
d.      Perubahan dalam hubungan sekolah
e.       Perubahan atau penyesuaian dengan lingkungan baru
2.      Faktor Internal
a.       Merasa tidak terpenuhi kebutuhan fisik mereka secara layak sehingga timbul ketidakpuasan, kecemasan dan kebencian terhadap apa yang mereka alami.
b.      Merasa dibenci, disia-siakan, tidak mengerti dan tidak diterima oleh siapapun termasuk orang tua mereka.
c.       Merasa lebih banyak dirintangi, dibantah, dihina serta dipatahkan dari pada disokong, disayangi dan ditanggapi, khususnya ide-ide mereka.
d.      Merasa tidak mampu atau bodoh.
e.       Merasa tidak menyenangi kehidupan keluarga mereka yang tidak harmonis seperti sering bertengkar, kasar, pemarah, cerewet dan bercerai.
f.       Merasa menderita karena iri terhadap saudara karena disikapi dan dibedakan secara tidak adil.
3.      Faktor Eksternal
Menurut Hurlock (1980) dan Cole (1963) faktor yang mempengaruhi emosi adalah :
a.       Orang tua atau guru memperlakukan mereka seperti anak kecil yang membuat harga diri mereka dilecehkan.
b.      Apabila dirintangi, anak membina keakraban dengan lawan jenis.
c.       Terlalu banyak dirintangi dari pada disokong, misalnya mereka lebih banyak disalahkan, dikritik oleh orang tua atau guru, akan cenderung menjadi marah dan mengekspresikannya dengan cara menentang keinginan orang tua, mencaci maki guru, atau masuk geng dan bertindak merusak (destruktif).
d.      Disikapi secara tidak adil oleh orang tua, misalnya dengan cara membandingkan dengan saudaranya yang lebih berprestasi dan lainnya.
e.       Merasa kebutuhan tidak dipenuhi oleh orang tua padahal orang tua mampu.
f.       Merasa disikapi secara otoriter, seperti dituntut untuk patuh, banyak dicela, dihukum dan dihina.
C.    Perkembangan Nilai, Moral, dan Sikap
Nilai (value) merupakan rujukan dan keyakinan dalam menentukan pilihan, ukuran untuk menentukan apakah sesuatu itu baik atau buruk. Nilai adalah berupa norma, etika, peraturan, undang-undang, adat kebiasaan, aturan agama, dan rujukan lainnya yang memiliki harga dan dirasakan berharga bagi seseorang dalam menjalani kehidupannya.
Moral adalah ajaran tentang baik buruk perbuatan dan kelakuan, akhlak, kewajiban, dan sebagainya (Purwodarminto, 1957 : 957). Dalam moral diatur segala perbuatan yang dinilai baik dan perlu dilakukan, dan sesuatu perbuatan yang dinilai tidak baik dan perlu dihindari. Moral berkaitan dengan kemampuan untuk membedakan antara perbuatan yang benar dan yang salah. Dengan demikian, moral merupakan kendali dalam bertingkah laku.
Sikap adalah keseluruhan dari kecenderungan dan perasaan, pemahaman, gagasan, rasa takut, perasaan terancam dan keyakinan-keyakinan tentang suatu hal. Sikap adalah kesiapan seseorang untuk memperlakukan sesuatu objek. Dengan kata lain bahwa sikap itu adalah kecenderungan bertindak pada seseorang.
Sikap berkaitan dengan motif dan mendasari tingkah laku seseorang, dapat diramalkan tingkah laku apa yang dapat terjadi dan akan diperbuat jika telah diketahui sikapnya. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi berupa kecenderungan (predisposisi) tingkah laku. Jadi sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek tersebut.
Menurut Danel Suasanto, pertumbuhan ataupun perkembangan pada masa remaja biasanya ditandai oleh beberapa perubahan-perubahan seperti dibawah ini :
1.      Perubahan Fisik
Pada masa remaja terjadi pertumbuhan fisik yang cepat dan proses kematangan seksual. Beberapa kelenjar yang mengatur fungsi seksualitas pada masa ini telah mulai matang dan berfungsu. Disamping itu tanda-tanda seksual sekunder telah mulai nampak pada diri remaja.
2.      Perubahan Intelek
Menurut perkembangan kognitif yang dibuat oleh Jean Piaget, seorang remaja telah beralih dari masa konkrit-operasional ke masa formal-operasional. Pada masa konkrit-operasional, seseorang mampu berpikir sistematis terhadap hal-hal atau obyek-obyek yang bersifat konkrit, sedang pada masa formal operasional ia sudah mampu berpikir se-cara sistematis terhadap hal-hal yang bersifat abstrak dan hipotetis. Pada masa remaja, seseorang juga sudah dapat berpikir secara kritis.
3.      Perubahan Emosi
Pada umumnya remaja bersifat emosional. Emosinya berubah menjadi labil. Menurut aliran tradisionil yang dipelopori oleh G. Stanley Hall, perubahan ini terutama disebabkan oleh perubahan yang terjadi pada kelenjar-kelenjar hor-monal. Namun penelitian-penelitian ilmiah selanjutnya menolak pendapat ini. Sebagai contoh, Elizabeth B. Hurlock menyatakan bahwa pengaruh lingkungan sosial terhadap per-ubahan emosi pada masa remaja lebih besar artinya bila dibandingkan dengan pengaruh hormonal.
4.      Perubahan Sosial
Pada masa remaja, seseorang memasuki status sosial yang baru. Ia dianggap bukan lagi anak-anak. Karena pada masa remaja terjadi perubahan fisik yang sangat cepat sehingga menyerupai orang dewasa, maka seorang remaja juga sering diharapkan bersikap dan bertingkahlaku seperti orang dewasa. Pada masa remaja, seseorang cenderung untuk meng-gabungkan diri dalam ‘kelompok teman sebaya’. Kelompok so-sial yang baru ini merupakan tempat yang aman bagi remaja. Pengaruh kelompok ini bagi kehidupan mereka juga sangat kuat, bahkan seringkali melebihi pengaruh keluarga. Menu-rut Y. Singgih D. Gunarsa & Singgih D. Gunarsa, kelompok remaja bersifat positif dalam hal memberikan kesempatan yang luas bagi remaja untuk melatih cara mereka bersikap, bertingkahlaku dan melakukan hubungan sosial. Namun kelompok ini juga dapat bersifat negatif bila ikatan antar mereka menjadi sangat kuat sehingga kelakuan mereka menjadi “overacting’ dan energi mereka disalurkan ke tujuan yang bersifat merusak.
5.      Perubahan Moral
Pada masa remaja terjadi perubahan kontrol tingkahlaku moral: dari luar menjadi dari dalam. Pada masa ini terjadi juga perubahan dari konsep moral khusus menjadi prinsip moral umum pada remaja. Karena itu pada masa ini seorang remaja sudah dapat diharapkan untuk mempunyai nilai-nilai moral yang dapat melandasi tingkahlaku moralnya. Walaupun demikian, pada masa remaja, seseorang juga mengalami kegoyahan tingkah laku moral. Hal ini dapat dikatakan wajar, sejauh kegoyahan ini tidak terlalu menyimpang dari moraliatas yang berlaku, tidak terlalu merugikan masyarakat, serta tidak berkelanjutan setelah masa remaja berakhir.
D.    Teori Perkembangan Moral
Menurut teori Kohlberg telah menekankan bahwa perkembangan moral didasarkan terutama pada penalaran moral dan berkembang secara bertahap. Dalam Teori Kohlberg mendasarkan teori perkembangan moral pada prinsip-prinsip dasar hasil temuan Piaget. Menurut Kohlberg sampai pada pandangannya setelah 20 tahun melakukan wawancara yang unik dengan anak-anak. Dalam wawancara , anak-anak diberi serangkaian cerita dimana tokoh-tokohnya menghadapi dilema-dilema moral. Berikut ini ialah dilema Kohlberg yang paling populer:
” Di Eropa seorang perempuan hampir meninggal akibat sejenis kanker khusus. Ada satu obat yang menurut dokter dapat menyelamatkannya. Obat tersebut adalah sejenis radium yang baru-baru ini ditemukan oleh seorang apoteker di kota yang sama. Biaya membuat obat ini sangat mahal, tetapi sang apoteker menetapkan harganya 10X lebih mahal dari biaya pembuatan obat tersebut. Untuk pembuatan 1 dosis obat ia membayar $ 200 dan menjualnya $2.000. Suami pasien perempuan, Heinz pergi ke setiap orang yang ia kenal untuk meminjam uang, tetapi ia hanya dapat mengumpulkan $1.000 atau hanya setengah dari harga obat. Ia memberitahu apoteker bahwa istrinya sedang sakit dan memohon agar apoteker bersedia menjual obatnya lebih murah atau membolehkannya membayar setengahnya kemudian. Tetapi sang apoteker berkata ”tidak, aku menemukan obat, dan aku harus mendapatkan uang dari obat itu.” Heinz menjadi nekat dan membongkar toko obat itu untuk mencuri obat bagi istrinya.”
Cerita ini adalah salah satu dari 11 cerita yang dikembangkan oleh Kohlberg untuk menginvestigasi hakekat pemikiran moral. Setelah membaca cerita, anak-anak yang menjadi responden menjawab serangkaian pertanyaan tentang dilema moral. Haruskah Heinz mencuri obat? Apakah mencuri obat tersebut benar atau salah? Pataskah suami yang baik itu mencuri? Dll. Berdasarkan penalaran-penalaran yang diberikan oleh responden dalam merespon dilema moral ini dan dilema moral lain. Dengan adanya cerita di atas menurut Kohlberg menyimpulkan terdapat 3 tingkat perkembangan moral, yang masing-masing ditandai oleh 2 tahap.
Konsep kunci untuk memahami perkembangan moral, khususnya teori Kohlberg , ialah internalisasi yakni perubahan perkembangan dari perilaku yang dikendalikan secara eksternal menjadi perilaku yang dikendalikan secara internal.
Teori Perkembangan moral dalam psikologi umum menurut Kohlberg terdapat 3 tingkat dan 6 tahap pada masing-masing tingkat terdapat 2 tahap diantaranya sebagai berikut :
Tingkat Satu : Penalaran Prakonvensional.
Penalaran Prakonvensional adalah : tingkat yang paling rendah dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tingkat ini, anak tidak memperlihatkan internalisasi nilai-nilai moral- penalaran moral dikendalikan oleh imbalan (hadiah) dan hukuman eksternal. Dengan kata lain aturan dikontrol oleh orang lain (eksternal) dan tingkah laku yang baik akan mendapat hadiah dan tingkah laku yang buruk mendapatkan hukuman.
Tahap I. Orientasi hukuman dan ketaatan.
Yaitu : tahap pertama yang mana pada tahap ini penalaran moral didasarkan atas hukuman dan anak taat karena orang dewasa menuntut mereka untuk taat
Tahap II. Individualisme dan tujuan
Pada tahap ini penalaran moral didasarkan atas imbalan (hadiah)dan kepentingan sendiri. Anak-anak taat bila mereka ingin taat dan bila yang paling baik untuk kepentingan terbaik adalah taat. Apa yang benar adalah apa yang dirasakan baik dan apa yang dianggap menghasilkan hadiah.
Tingkat Dua : Penalaran Konvensional
Penalaran Konvensional merupakan suatu tingkat internalisasi individual menengah dimana seseorang tersebut menaati stándar-stándar (Internal)tertentu, tetapi mereka tidak menaati stándar-stándar orang lain (eksternal)seperti orang tua atau aturan-aturan masyarakat.
Tahap III. Norma-norma Interpersonal
Yaitu dimana seseorang menghargai kebenaran, keperdulian dan kesetiaan kepada orang lain sebagai landasan pertimbangan-pertimbangan moral. Seorang anak mengharapkan dihargai oleh orang tuanya sebagai yang terbaik.
Tahap IV Moralitas Sistem Sosial
Yaitu dimana suatu pertimbangan itu didasarkan atas pemahaman atuyran sosial, hukum-hukum, keadilan, dan kewajiban.
Tingkat Tiga : Penalaran Pascakonvensional
Yaitu Suatu pemikiran tingkat tinggi dimana moralitas benar-benar diinternalisasikan dan tidak didasarkan pada standar-standar orang lain. Seseorang mengenal tindakan-tindakan moral alternatif, menjajaki pilihan-pilihan, dan kemudian memutuskan berdasarkan suatu kode.
Tahap V. Hak-hak masyarakat versus hak-hak individual
Yaitu nilai-nilai dan aturan-aturan adalah bersifat relatif dan bahwa standar dapat berbeda dari satu orang ke orang lain.
Tahap VI. Prinsip-prinsip Etis Universal
Yaitu seseorang telah mengembangkan suatu standar moral yang didasarkan pada hak-hak manusia universal. Dalam artian bila sseorang itu menghadapi konflik antara hukum dan suara hati, seseorang akan mengikuti suara hati.
Pada perkembangan moral menurut Kohlberg menekankan dan yakin bahwa dalam ketentuan diatas terjadi dalam suatu urutan berkaitan dengan usia. Pada masa usia sebelum 9 tahun anak cenderung pada prakonvensional. Pada masa awal remaja cenderung pada konvensional dan pada awal masa dewasa cenderung pada pascakonvensional. Demikian hasil teori perkembangan moral menurut kohlberg dalam psikologi umum.
Ketika kita khususkan dalam memandang teori perkembangan moral dari sisi pendidikan pada peserta didik yang dikembangkan pada lingkungan sekolah maka terdapat 3 tingkat dan 6 tahap yaitu :
Tingkat Satu : Moralitas Prakonvensional
Yaitu : ketika manusia berada dalam fase perkembangan prayuwana mulai dari usia 4-10 tahun yang belum menganggap moral sebagai kesepakatan tradisi sosial.Yang man dimasa ini anak masih belum menganggap moral sebagai kesepakatan tradisi sosial.
Pada tingkat pertama ini terdapat 2 tahap yaitu :
Tahap 1. Orientasi kepatuhan dan hukuman.
Adalah penalaran moral yang yang didasarkan atas hukuman dan anak-anak taat karena orang-orang dewasa menuntut mereka untuk taat. Dengan kata lain sangat memperhatikan ketaatan dan hukum. Dalam konsep moral menurut Kohlberg ini anak menentukan keburukan perilaku berdasarkan tingkat hukuman akibat keburukan tersebut. Sedangkan perilaku baik akan dihubungkan dengan penghindaran dari hukuman.
Tahap 2. Memperhatikan Pemuasan kebutuhan.
Yang bermakna perilaku baik dihubungkan dengan pemuasan keinginan dan kebutuhan sendiri tanpa mempertimbangkan kebutuhan orang lain.
Tingkat Dua : Moralitas Konvensional
Yaitu ketika manusia menjelang dan mulai memasuki fase perkembangan yuwana pada usia 10-13 tahun yang sudah menganggap moral sebagai kesepakatan tradisi sosial.
Pada Tingkat II ini terdapat 2 tahap yaitu :
Tahap 3. Memperhatikan Citra Anak yang Baik
Maksudnya : anak dan remaja berperilaku sesuai dengan aturan dan patokan moral agar dapat memperoleh persetujuan orang dewasa, bukan untuk menghindari hukuman.
Semua perbuatan baik dan buruk dinilai berdasarkan tujuannya, jadi ada perkembangan kesadaran terhadap perlunya aturan. Dalam hal ini terdapat pada pendidikan anak.
Pada tahap 3 ini disebut juga dengan Norma-Norma Interpernasional ialah : dimana seseorang menghargai kebenaran, keperdulian, dan kesetiaan kepada orang lain sebagai landasan pertimbangan-pertimbangan moral. Anak-anak sering mengadopsi standar-standar moral orang tuanya sambil mengharapkan dihargai oleh orang tuanya sebagi seorang anak yang baik.
Tahap 4. Memperhatikan Hukum dan Peraturan.
Anak dan remaja memiliki sikap yang pasti terhadap wewenang dan aturan.Hukum harus ditaati oleh semua orang.
Tingkat Tiga : Moralitas Pascakonvensional
Yaitu ketika manusia telah memasuki fase perkembangan yuwana dan pascayuwana dari mulai usia 13 tahun ke atas yang memandang moral lebih dari sekadar kesepakatan tradisi sosial. Dalam artian disini mematuhi peraturan yang tanpa syarat dan moral itu sendiri adalah nilai yang harus dipakai dalam segala situasi.
Pada perkembangan moral di tingkat 3 terdapat 2 tahap yaitu :
Tahap 5. Memperhatikan Hak Perseorangan.
Maksudnya dalam dunia pendidikan itu lebih baiknya adalah remaja dan dewasa mengartikan perilaku baik dengan hak pribadi sesuai dengan aturan dan patokan sosial.
Perubahan hukum dengan aturan dapat diterima jika ditentukan untuk mencapai hal-hal yang paling baik.. Pelanggaran hukum dengan aturan dapat terjadi karena alasan-alasan tertentu.
Tahap 6. Memperhatikan Prinsip-Prinsip Etika.
Maksudnya : Keputusan mengenai perilaku-pwerilaku sosial berdasarkan atas prinsip-prinsip moral, pribadi yang bersumber dari hukum universal yang selaras dengan kebaikan umum dan kepentingan orang lain.Keyakinan terhadap moral pribadi dan nilai-nilai tetap melekat meskipun sewaktu-waktu berlawanan dengan hukum yang dibuat untuk menetapkan aturan sosial. Contoh : Seorang suami yang tidak punya uang boleh jadi akan mencuri obat untuk menyelamatkan nyawa istrinya dengan keyakinan bahwa melestarikan kehidupan manusia merupakan kewajiban moral yang lebih tinggi daripada mencuri itu sendiri.
E.     Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Moral
Perkembangan moral seorang anak banyak dipengaruhi oleh lingkungannya. Anak memperoleh nilai-nilai moral dari lingkungannya, terutama dari orangtuanya. Dia belajar untuk mengenal nilai-nilai dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai tersebut. Dalam mengembangkan moral anak, peranan orangtua sangatlah penting, terutama pada waktu anak masih kecil. Beberapa sikap orangtua yang perlu diperhatikan sehubungan dengan perkembangan moral anak, antara lain:
1.      Konsisten dalam mendidik anak
2.      Sikap orangtua dalam keluarga
3.      Penghayatan dan pengamalan agama yang dianut
4.      Sikap konsisten orangtua dalam menerapkan norma
F.     Upaya Pengembangan Moral, Nilai dan Sikap Serta Implikasinya bagi Pendidikan
Tahap-tahap perkembangan moral pada remaja telah mencapai pada tahap moralitas hasil interaksi yang seimbang yaitu secara bertahap anak mengadakan internalisasi nilai moral dari orangtuanya dan orang-orang dewasa di sekitarnya. Pada akhir masa remaja terdapat lima perubahan yang dapat dilukiskan sebagai berikut:
1.      Pandangan moral remaja mulai menjadi abstrak, menifestasi dari ciri ini adalah prilaku remaja yang suka saling bernasihat sesama teman dan kesukaannya pada kata-kata mutiara.
2.      Pandangan moral remaja sering terpusat pada apa yang benar dan apa yang salah. Sehingga remaja sangat antusias pada usaha-usaha reformasi sosial.
3.      Penilaian moral pada remaja semakin mendasarkan diri pada pertimbangan kognitif, yang mendorong remaja mulai menganalisis etika sosial dan mengambil keputusan kritis terhadap berbagai masalah moral yang dihadapinya.
4.      Penilaian moral yang dilakukan remaja menunjukkan perubahan yang bergerak dari sifat egosentris menjadi sosiosentris, sehingga remaja senang sekali bila dilibatkan dalam kegiatan memperjuangkan nasib sesama, kesetiakawanan kelompok yang kadang-kadang untuk ini remaja bersedia berkorban fisik.
5.      Penilaian moral secara psikis juga berkembang menjadi lebih mendealam yang dapat merupakan sumber emosi dan menimbulkan ketegangan-ketegangan psikologis. Sehingga pada akhir masa remaja moral yang dianutnya diharapkan menjadi kenyataan hidup dan menjadi barang berharga dalam hidupnya.
Tidak semua individu mencapai tingkat perkembangan moral seperti yang diharapkan, maka kita dihadapkan dengan masalah pembinaan. Adapun upaya-upaya yang dilakukan dalam mengembangkan nilai, moral dan sikap remaja adalah:
1.      Menciptakan Komunikasi
Dalam komunikasi didahului dengan pemberian informasi tentang nilai-nilai dan moral. Anak tidak pasif mendengarkan dari orang dewasa bagaimana seseorang harus bertingkah laku sesuai dengan norma dan nilai-nilai moral, tetapi anak-anak harus dirangsang supaya lebih aktif.
2.      Menciptakan Iklim Lingkungan yang Serasi
Seseorang yang hidup dalam lingkungan yang secara positif, jujur, dan konsekuen yang senantiasa mendukung bentuk tingkah laku yang merupakan pencerminan nilai hidup tersebut. Ini berarti antara lain, bahwa usaha pengembangan tingkah laku nilai hidup hendaknya tidak hanya mengutamakan pendekatan-pendekatan intelektual semata, tetapi mengutamakan adanya lingkungan yang kondusif dimana factor-faktor lingkungan itu sendiri merupakan penjelmaan yang konkret dari nilai-nilai hidup tersebut. Karena lingkungan merupakan factor yang cukup luas dan sangat bervariasi, maka tampaknya yang perlu diperhatikan adalah lingkungan sosial terdekat terutama mereka yang berfungsi sebagai pendidik dan Pembina yaitu orang tua dan guru.


DAFTAR PUSTAKA
Nana Syaodih Sukmadinata.Landasan Psikologi Psoses Pendidikan.Bandung:PT Remaja
       Rosdakarya.2011
Syamsu Yusuf.Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.Bandung:PT Remaja Rosdakarya
Kimmyaulia.Perkembangan Nilai, Moral dan Sikap. Di unduh dari
       http://kimmyaulia.blogspot.com/2014/03/perkembangan-nilai-moral-dan-sikap.html
Eva Yuliawati.Makalah Perkembangan Moral.Di unduh dari
       http://evayuliawati.blogspot.com/2013/03/makalah-perkembangan-moral.html
Anekamakalah.Perkembangan Nilai, Moral dan Sikap.Di unduh dari
       http://www.anekamakalah.com/2012/07/perkembangan-nilai-moral-dan-sikap.html
Jum’atun Nikmah.Perkembangan Nilai, Moral, dan Sikap.Di unduh dari
       sikap/, diakses tgl 10 Mei 2015, jam 15.50


(sumber: http://hafizamri.com/cara-mengawal-emosi-dan-perasaan/)

Minggu, 26 April 2015

PSIKOLOGI PENDIDIKAN


Psikologi Pendidikan

Nama : Noni Wahyu Lestari

Nim : 1114018200022

Kelas : MP2A

Program Studi Manajemen Pendidikan
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

 

 

A.    Definisi Psikologi Pendidikan

Menurut  Witherington, Pengertian Psikologi pendidikan adalah  studi sistematis tentang proses-proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan manusia. Jadi, secara umum dapat kita uraikan psikologi pendidikan adalah Cabang dari psikologi yang dalam penguraian dan penerapannya lebih memfokuskan pada masalah pertumbuhan dan perkembangan anak, baik fisik ataupun mental yang sangat erat hubungannya dengan masalah pendidikan terutama yang mempengaruhi proses dan keberhasilan belajar.

B.     Manfaat Psikologi Pendidikan

Manfaat dari psikologi pendidikan itu sendiri bagi pendidik adalah membuat pendidik lebih mengetahui terhadap keragaman dan perbedaan individu karena setiap individu (siswa) itu  berbeda, sehingga pendidik tidak bisa menyamaratakan tingkat intelegensi mereka. Mungkin saja satu anak tidak pandai dalam pelajaran Berhitung tetapi pandai dalam menggambar atau menyanyi.

Manfaat yang kedua yaitu, Pendidik setelah mengetahui bahwa setiap individu itu berbeda melelaui psikologi pendidikan, pendidik diharapkan dapat menentukan metode mengajar yang efektif dan dapat menciptakan suasana belajar dikelas yang kondusif. Dalam menciptakan suasana yang kondusif dikelas pendidik harus mengetahui prinsip-prinsip yang tepat dalam proses belajar mengajar yaitu pemilihan strategi dan metode pembelajaran yang tepat berdasarkan pada karekteristik perkembangan siswa.  

Manfaat yang ketiga dalam mempelajari psikologi pendidikan yaitu pendidik dapat Memberikan Bimbingan kepada peserta didik atau siswa. Seorang pendidikan sebagai fasilitator bukan hanya bertugas mentransfer ilmu  tetapi juga harus berperan sebagai  pembimbing bagi peserta didik. Bimbingan adalah jenis bantuan kepada siswa untuk memecahkan masalah yang mereka hadapi.

Manfaat lain  Psikologi pendidikan yaitu untuk merencanakan dengan tepat media pembelajaran yang akan digunakan. Misalnya penggunaan media audio-visual, sehingga dapat memberikan gambaran nyata kepada peserta didik. Manfaat lain yaitu sebagai acuan untuk menyusun jadwal pelajaran. Jadwal pelajaran harus disusun berdasarkan kondisi psikologi peserta didik. Misalnya mata pelajaran Matematika yang dianggap sulit bagi peserta didik ditempatkan pada awal pelajaran, di mana kondisi siswa masih fresh  dan semangat dalam menerima materi pelajaran

 

C.    Metode Belajar


Menurut saya metode yang memudahkan saya dalam mempelajari Psikologi Pendidikan yaitu metode ceramah, metode diskusi dan tugas serta metode resitasi. Metode ceramah penerangan secara lisan atas bahan pembelajaran kepada sekelompok pendengar untuk mencapai tujuan pembelajaran, sebagai pengantar kita mengetahui sebuah informasi dari ahlinya. Lalu dilanjutkan ke metode diskusi yaitu proses pelibatan dua orang peserta atau lebih untuk berinteraksi dan saling bertukar pendapat untuk pemecahan masalah dan menghasilkan sebuah kesepakatan.  Selanjutnya yaitu metode  resitasi yaitu metode pengajaran dengan mengharuskan membuat resume dengan kalimat sendiri. Sehingga apa yang kita pelajari ada hasilnya dan karena daya ingat setiap orang berbeda, maka sebaiknya dicatat agar tidak lupa.


D.    Pertumbuhan dan Perkembangan


Pertumbuhan adalah proses menambahnya tinggi, volume, atau massa tubuh makhluk hidup yang biasanya bersifat kuantitatif (dapat dihitung dengan angka). Penambahan ini ditandai dengan penambahan berat, panjang, volume, jumlah sel, dan sebagainya

Perkembangan adalah proses menuju kedewasaan yang bersifat kualitatif (tidak dapat digambarkan dengan angka, lebih dilihat dari segi fungsionalnya) untuk menjadi makhluk yang sempurna seutuhnya.

Hal yang menarik dalam mempelajari pertumbuhan dan perkembangan yaitu kita dapat mengetahui perubahan apa saja yang terjadi pada diri kita sendiri atau pun oranglain. Dari sewaktu kita kecil sampai dewasa. Misalnya sewaktu SD berat badannya 34 dan tinggi 138, dan dibandingkan dengan berat badan dan tinggi saya sekarang yaitu 54kg dan 160cm.

Ayat al-quran yang menjelaskan tentang pertumbuhan dan perkembangan yaitu surat al mu’minun ayat 12-15
 


E.     Teori Belajar menurut Jean Piaget

Perspektif konstruktivisme berakar dari filsafat tertentu tentang manusia dan pengetahuan. Makna pengetahuan, sifat-sifat pengetahuan dan bagaimana seseorang menjadi ”tahu” dan berpengetahuan, menjadi perhatian penting bagi aliran konstruktivistik. Pada dasarnya perspektif ini mempunyai asumsi bahwa pengetahuan lebih bersifat kontekstual daripada absolut, yang memungkinkan adanya penafsiran jamak (multiple perspectives) bukan hanya pada penafsiran saja.

menurut saya, teori konstruktivisme lebih menekankan pada proses daripada hasil. Dalam proses belajar, hasil itu penting teapi proses jauh lebih penting, karena didalam proses terdapat cara belajar, dan strategi belajar yang nantinya akan mempengaruhi perkembangan cara berfikir seseorang. Sebagai upaya memperoleh pemahaman dan pengetahuan, siswa ”mengkonstruksi” atau membangun pemahamannya terhadap fenomena yang ditemui dengan menggunakan pengalaman yang dimiliki. Dengan demikian, pemahaman atau pengetahuan dapat dikatakan bersifat subyektif oleh karena sesuai dengan proses yang dialami.

F.     Teori Belajar yang cocok

Teori belajar yang saya sukai dan cocok pada jurusan saya adalah teori belajar konstruktivisme. Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern. Saya setuju dengan teori belajar ini karena pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit. Teori belajar ini juga lebih menekankan pada proses daripada hasil. Pengetahuan bukanlah sebuah fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat tetapi harus mengkontruksi suatu pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Dengan teori konstruktivisme ini kita dapat berfikir untuk menyelesaikan masalah, mencari idea dan membuat keputusan.

G.    Multiple Intelligence


Inteligensi  adalah kemampuan yang dibawa sejak lahir yang memungkinkan seseorang berbuat dengan cara yang tertentu.[1] Howard Gardner (1993) mengemukakan bahwa kecerdasan seseorang meliputi unsur-unsur kecerdasan matematika logika, kecerdasan bahasa, kecerdasan musikal, kecerdasan visual spasial, kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Howard Garnerd menghilangkan anggapan yang selama ini tentang kecerdasan manusia. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa tidak ada satuan kegiatan manusia yang hanya menggunakan satu macam kecerdasan, melainkan seluruh kecerdasan. Semua kecerdasan ini bekerja sama sebagai satu kesatuan yang utuh dan terpadu. Kecerdasan yang paling dominan akan mengontrol kecerdasan-kecerdasan lainnya. Seperti yang Howard Garnerd kemukakan bahwa tidak ada manusia yang menggunakan satu macam kecerdasan, multiple intellegence yang ada pada diri saya yaitu musical dan linguistic. Tetapi keduanya tidak dominan. Yang menjadi dominan adalah multiple intellegence intrapersonal yaitu kemampuan untuk mengendalikan emosi diri sendiri, mengamati dan mengerti maksud, motivasi dan perasaan orang lain, Peka pada ekpresi wajah, suara dan gerakan tubuh orang lain.  
Cara mengembangkan kecerdasan intrapersonal, yaitu Memahami keunikan diri sendiri,Membangun harga diri dan Mengendalikan emosi. 

 

H.    Motivasi


Sebelum kita membahas lebih jauh tentang Motivasi, kita harus mengetahui definisi atau pengertian dari motivasi itu sendiri. Apa itu Motivasi? Motivasi adalah suatu yang menghidupkan (energizer),mengarahkan dan mempertahankan prilaku; motivasi membuat siswa bergerak, menempatkan mereka dalam suatu arah tertentu dan menjaga mereka agar terus bergerak.[2] Motivasi adalah proses yang memberi semangat,arah dan kegigihan perilaku. Artinya, perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah dan bertahan lama.[3]

Dari berbagai pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah suatu sugesti atau dorongan yang muncul karena diberikan oleh seseorang kepada orang lain atau dari diri sendiri, dorongan tersebut bermaksud agar orang tersebut menjadi orang yang lebih baik dari yang sebelumnya.

Ada dua faktor yang mempengaruhi Motivasi, yaitu :



Motivasi Eksternal adalah motivasi yang berasal dari luar diri. motivasi eksternal saya yang pertama yang mempengaruhi motivasi belajar dijurusan ini adalah orang tua. Yang kedua adalah dari faktor ligkungan. Sebagai bentuk keprihatinan saya karena masih banyak sekolah-sekolah di Indonesia yang belum layak. Saya berharap setelah lulus nanti bisa membantu sekolah-sekolah yang belum layak menjadi lebih baik.
 
Motivasi Internal adalah motivasi yang berasal dari dalam diri yang biasnya bersifat lebih kekal.  
motivasi internal saya yang mempengaruhi motivasi belajar dijurusan ini adalah faktor minat. Karena jurusan manajemen pendidikan ini adalah jurusan atau program studi yang saya pilih sendiri.

 

I.    Ciri-ciri guru beraliran Behaviorisme
Ciri-ciri guru beraliran Perspektif Behavioral menekankan hukuman dan imbalan eksternal sebagai kunci dalam menentukan motivasi murid. Mengutamakan Mekanisme terbentuknya hasil belajar dan Mementingkan pengaruh lingkungan.

 

J.    Ciri-ciri guru beraliran Humanisme
Ciri-ciri guru beraliran Perspektif Humanistik adalah  menekankan pada kapasitas murid untuk mengembangkan kepribadian,kebebasan untuk memilih nasib mereka dan kualitas positif (seperti peka terhadap orang lain, Mementingkan manusia sebagai pribadi, Mementingkan peranan kognitif dan efektif,Mementingkan kemampuan menentukan bentuk tingkah laku sendiri .

 

 

 

 




[1]Ngalim purwanto,  psikologi pendidikan h. 54, bandung: remadja karya. 1985
[2]Jeanne Ellis Omrod, Psikologi Pendidikan, h.58, Jakarta: Erlangga,2008
[3] John W. Santrock, Psikologi Pendidikan, h 510, Jakarta : Kencana, 2008