Cute Finding Nemo

Selasa, 02 Juni 2015

Kreativitas


A.  Pengertian Kreativitas

Kreativitas merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk menemukan dan menciptakan suatu hal baru,cara-cara baru, model baru, yang berguna bagi dirinya dan masyarakat. Hal-hal baru itu tidak selalu sesuatu yang sama sekali tidak pernah ada sebelumnya, unsur-unsurnya bisa saja telah ada sebelumnya, tetapi individu menemukan kombinasi baru, konstruk baru yang memiliki kualitas yang berbeda dengan keadaan sebelumnya. Jadi, hal baru itu adalah sesuatu yang bersifat inovatif. Kreativitas memegang peranan penting dalam kehidupan dan perkembangan manusia. Kreativitas banyak dilandasi oleh kemampuan intelektual, seperti intelegensi bakat dan kecakapan hasil belajar, tetapi juga didukung oleh faktor-faktor afektif dan psikomotor. 

pengertian Kreativitas menurut para ahli:
  1. Guilford (1970 : 236). Kreativitas mengacu pada kemampuan yang menandai cirri-ciri seorang kreatif.
  2. Utami Munandar (1992 : 41) Kreativitas adalah kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan, dan orisinalitas dalam berpikir serta kemampuan untuk mengelaborasi suatu gagasan.
  3. Rogers (1992 : 48) Kreativitas adalah proses munculnya hasil-hasil baru dalam suatu tindakan.
  4. Drevdahl (Hurlock; 1978 : 3) Kreativitas adalah kemampuan untuk memproduksi komposisi dan gagasan-gagasan baru yang dapat berwujud aktivitas imajinatif atau sentesis yang mungkin melibatkan pembentukan pola-pola bar dan kombinasi dari pengalaman masa lalu yang dihubungkan dengan yang sudah ada pada situasi sekarang.

B. Perkembangan Kreativitas
  1. Tahap sensorik – motorik ( 0 – 2 tahun). Pada tahap ini belum memiliki kemampuan untuk mengembangkan kreativitasnya. Sebab, pada tahap ini tindakan-tindakan anak masih berupa tindakan-tindakan fisik yang bersifat refleksif, pandangannya terhadap objek masih belum permanen, belum memiliki konsep tentang ruang dan waktu, belum memiliki konsep tentang sebab-akibat, bentuk permainannya masih merupakan pengulangan reflek-reflek, belum memiliki konsep tentang diri, ruang dan belum memiliki kemampuan berbahasa. 
  2. Tahap Praoperasional ( 2 – 7 tahun). Pada tahap ini kemampuan mengembangkan kreativitas sudah mulai tumbuh karena anak sudah mulai tumbuh karena anak sudah mulai mengembangkan memori dan telah memiliki kemampuan untuk memikirkan masa lalu dan masa yang akan datang, meskipun dalam jangka waktu yang pendek.
  3. Tahap Operasional Konkrit ( 7 – 11 tahun). Faktor-faktor yang memungkinkan semakin berkembangnya kreativitas itu adalah Anak sudah mulai mampu untuk menampilkan operasi-operasi mental, Mulai mampu berpikir logis dalam bentuk yang sederhana, Mulai berkembang kemampuan untuk memelihara identitas-identitas diri ,Konsep tentang ruang sudah semakin meluas, Sudah amat menyadari akan adanya masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang, Sudah mampu mengimajinasikan sesuatu, meskipun biasanya masih memerlukan bantuan objek-objek konkrit.
  4. Tahap Operasional Formal ( 11 tahun ke atas). Ada beberapa faktor yang mendukung berkembangnya potensi kreativitas ini, yakni :Remaja sudah mampu melakukan kombinasi tindakan secara proposional berdasarkan pemikiran logis, Remaja sudah mampu melakukan kombinasi objek-objek secara proporsional berdasarkan pemikiran logis, Remaja sudah memiliki pemahaman tentang ruang relatif, Remaja sudah memiliki pemahaman tentang waktu relative, Remaja sudah mampu melakukan pemisahan dan pengendalian variabel-variabel dalam menghadapi masalah yang kompleks, Remaja sudah mampu melakukan abstraksi relative dan berpikir hipotesis, Remaja sudah memiliki diri ideal,Remaja sudah menguasai bahasa abstrak

C. Tahap-Tahap Kreativitas
tahap-tahap kreativitas yaitu:
  1. Persiapan (preparation) merupakan tahap awal berisi kegiatan pengenalan masalah, pengumpulan data-informasi yang relevan, melihat hubungan antara hipotesis dengan kaidah-kaidah yang ada. Tetapi belum sampai menemukan sesuatu, baru menjajagi kemungkinan-kemungkinan.
  2. Inkubasi (incubation) merupakan tahap menjelaskan, membatasi, membandingkan masalah. Dengan proses ini diharapkan ada pemisahan, mana hal-hal yang benar-benar penting dan mana yang tidak, mana yang relevan dan mana yang tidak.
  3. Iluminasi merupakan tahap mencari dan menemukan kunci pemecahan,menghimpun informasi dari luar untuk dianalisis dan disintesiskan kemudian merumuskan beberapa keputusan
  4. Ferifikasi merupakan tahap mentes dan membuktikan hipotesis, apakah keputusan yang diambil itu tepat atau tidak.

D. Karakteristik Kreativitas
menurut Diers (Adams : 1976) mengemukakan bahwa karakteristik kreativitas adalah sebagai berikut:
  1. Memiliki dorongan (drive) yang tinggi
  2. Memiliki rasa ingin tahu yang besar
  3. Penuh percaya diri
  4. Bersifat sensitive, dan lain-lain
  5. Toleran terhadap ambiguitas
sedangkan menurut Utami Munandar (1992) mengemukakan cirri-ciri kreativitas antara lain :
  1. Senang mencari pengalaman baru
  2. Memiliki inisiatif
  3. Selalu ingin tahu
  4. Memiliki rasa humor
  5. Berwawasan masa depan dan penuh imajinasi, dan lain-lain.

Clark (1988) mengemukakan karakteristik kreativitas adalah sebagai berikut :
  1. Memiliki disiplin diri yang tinggi
  2. Senang berpetualang
  3. Memiliki wawasan yang luas
  4. Mampu berpikir periodic
  5. Memerlukan situasi yang mendukung
  6. Sensitif terhadap lingkungan
  7. Memiliki nilai estetik yang tinggi

E. Sikap Orang Tua Terhadap Perkembangan Kreativitas Anak

Sikap orang tua sangat mempengaruhi krea tivitas anak. Orang tua, adalah individu yang secara intens berhubungan dengan anak, akan menjadi model bagi anak. Selain itu, sikap orang tua terhadap perkembangan kreativitas anak juga memegang peranan penting.


Sikap orang tua yang memupuk kreativitas anak, Munandar (1999) menjelaskan bahwa dari berbagai penelitian diperoleh hasil, bahwa sikap orang tua yang memupuk kreativitas anak ialah orang tua yang menghargai pendapat anak dan mendorongnya untuk mengungkapkannya, memberi waktu kepada anak untuk berpikir, merenung, dan berkhayal, membiarkan anak mengambil keputusan sendiri, mendorong kemelitan anak, untuk menjajaki dan mempertanyakan banyak hal, menunjang dan mendorong kegiatan anak, menikmati keberadaannya bersama anak serta memberi pujian yang sungguh-sungguh kepada anak.

Sikap orang tua yang tidak menunjang kreativitas anak, menurut Munandar (1999), sikap orang tua yang tidak menunjang pengembangan kreativitas anak ialah mengatakan kepada anak bahwa ia dihukum jika berbuat salah, Tidak membolehkan anak menjadi marah terhadap orang tua, tidak membolehkan anak mempertanyakan keputusan orang tua, tidak memperbolehkan anak bermain dengan anak dari keluarga yang mempunyai pandangan dan nilai yang berbeda dari keluarga anak dan orang tua terlalu ketat mengawasi kegiatan anak, orang tua kritis terhadap anak dan menolak gagasan anak.

F. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kreativitas
Clark (1983) mengkategorikan faktor-faktor yang mempengaruhi kreativitas ke dalam 2 kelompok yakni :
  1. Faktor yang mendukung meliputi : Situasi yang menghadirkan ketidak lengkapan serta keterbukaan, situasi yang memungkinkan dan mendorong timbulnya banyak pertanyaan, situasi yang dapat mendorong dalam rangka menghasilkan sesuatu, situasi yang mendorong tanggung jawab dan kemandirian.
  2. Faktor yang menghambat meliputi : Tidak menghargai terhadap fantasi dan hayalan, otoritarisme, diferensiasi antara bekerja dan bermain, stereotif peran seks/jenis kelamin, kurang berani dalam melakukan eksplorasi, menggunakan imajinasi, dan penyelidikan.
Utami Munandar (1988) mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kreativitas adalah :
  1. Tingkat Pendidikan orang tua
  2. Usia
  3. Tersedianya fasilitas
  4. Penggunaan waktu luang dengan baik

G. Upaya Membantu Mengembangkan Kreativitas dan Implikasinya Dalam Pendidikan

Dalam konteks relasi dengan anak-anak kreatif Torrance (1977) menamakan relasi bantuan dengan istilah “Creative relationship” yang memiliki karakteristik sebagai berikut :
  1. Pembimbing berusaha memahami pikiran dan perasaan anak
  2. Pembimbing mendorong anak untuk mengungkapkan gagasan-gagasannya tanpa mengalami hambatan
  3. Pembimbing lebih menekan pada proses daripada hasil sehingga pembimbing dituntut mampu memandang permasalahan anak sebagai bagian dari keseluruhan dinamika perkembangan dirinya.
  4. Pembimbing tidak memaksakan pendapat, pandangan, atau nilai-nilai tertentu kepada anak.
  5. Pembimbing berusaha mengeksplorasi segi-segi positif yang dimiliki anak dan bukan sebaliknya mencari-cari kelemahan anak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar